Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cara Menjadi Diri Sendiri Apa Adanya Sebagai Penulis

 Sebuah cerita populeer yang sering kita dengarkan bahwa “saya tidak sehebat apa yang kamu pikir”. Namun, sebagai umat manusia yang punya naluri untuk melebih-lebihkan sesuatu, suatu hal yang awalnya normal malah mengembang menjadi adonan kue.

Angka penambahan yang tidak seharusnya kita masukkan dalam daftar pembicaraan, eh… malah kita yang menambah-nambah cerita, bukannya ingin menceritakan kebenaran, tapi sebaliknya, kitanya yang hanya tidak ingin terlihat payah di mata orang lain.

Sebuah asumsi belakang yang melebih-lebihkan diri sendiri di mata orang lain. Ingin diterima, ingin dianggap, ingin diakui, ingin dapat pujian dikolom komentar, yang semuanya dilakukan dengan memanipulasi konten.

Konten yang seharusnya ditulis apa adanya, namun ditulis secara berlebihan dengan pemasukkan sejuta kebohongan yang tidak realilstis.

Saya, kamu, kalian dan mereka pernah melakukan hal itu dan saya mengakui kebohongan itu.

Yah! Saya akui bahwa saya memang payah menjadi diri sendiri.

Mungkin sudah lama saya merasa terkekang dengan aturan untuk menjadi orang yang dianggap keren, dianggap popular, dianggap luarbiasa atau semata selalu ingin dianggap. Hingga pada kenyataannya saya tidak menikmati hidup saya sendiri.

Fakta menariknya kita tidak ingin memperlihatkan kekurangan, kekurangan yang seharusnya diterima dan diakui malah dibungkus rapi oleh kebohongan, sering menceritakan hal-hal yang berbau heroik, tapi pada kenyataanya kita hanya duduk dan berbaring dikasur yang empuk tanpa melakukan hal yang benar-benar berarti.

Sebuah impian palsu, sebuah kenyataan semu dan sebuah scenario yang terburuk untuk menjalani hidup.

Hari ini dan seterusnya saya akan berhenti berpura-pura menjadi orang lain, saya akan mengorbangkan kepalsuan hidup buatan ini dan beralih kepada kehidupan keber-bahagiaan yang nyata.

Untuk itu, kita perlu menjadi penulis yang tidak semestinya mencari-cari kepalsuan demi sebuah, demi puluhan, demi ratusan komen-komen yang mengankat diri. Kumpulan komen yang memaksa kita untuk mengatakan bahwa “saya orang hebat”.

Mungkin saya sudah terlalu banyak menulis kekonyolan, kekonyolan yang agak memaksa bahwa artikel saya yang terbaik dan terlayak menyandang rating tertinggi pada bagian pembuka hehehee…

Yah! Simak bebarapa cara yang mungkin berhasil kamu gunakan untuk menjadi diri sendiri senyata-nyatanya dan sebenar-benarnya dan terimalah kebenaran itu…

Cara Menjadi Diri Sendiri Apa Adanya Sebagai Penulis

1. Penerimaan “saya terima diri saya apa adanya”

Selama beberapa lama yang mungkin sudah memakan tahunan, saya tertarik menjadi yang terpopuler, hanya untuk memasok kata “pujian”. Namun dibalik layer yang cerah itu, pada kenyataanya  saya dalam kegelapan dan tidak melihat diri saya “siapa saya sebenarnya”.

Jika, kamu dalam kepuraan-puraan menjadi orang lain dan ingin dianggap tidak memiliki kekurangan. Maka, kamu perlu mengubahnya dan hentikan imitasi itu sekarang juga “detik ini”.

Walaupun peralihan program baru tidak semudah kelihatanya, tapi percayalah kamu bisa mencoba mereset kebisaan lama. Kebiasaan menjadi hero tanpa kekurangan berubah menjadi seseorang yang melakukan hal yang tepat.

Semua akan dimulai dari kata “jujur”

Kita kadang-kadang dan bahkan sering melihat – oh engkau memiliki kulit putih sepeutih susu murni sedang saya mutlak memiliki kulit hitam-sehitam kopi pahit. Kita berbeda dan tidak sejenis.

Alih-alih tidak menerima diri sendiri karna level keputihan jauh beda dengan teman, eh kita merasa terserang teman sendiri, yang pada kenyataanya teman kamu sudah menerima kamu apa adanya.

Pola pikir yang tidak ingin jujur dan tidak ingin mengakui dan tidak mempercayai diri sendiri untuk Bahagia apa adanya “Harus di hapus”.

“terimalah diri kamu apa adanya, kalau memang kita payah, maka terimalah bahwa saya memang payah dan jangan tunggu waktu untuk mencari kelebihan kamu, yang sebenarnya itu ada dibalik kekuranganmu”.

2. Pengenalan “kenali diri kamu sendiri”

Sudah tidak terasa kita telah lama menjani hidup ini, dari makan, tidur, bercanda dan melakukan berbagai macam aktivitas, yang semuanya sudah berajalan secara otomatis tanpa kita harus berpikir panjang atau mungkin tanpa berpikir sama sekali, ini semua berjalan sesuai buku panduan atau saya defenisikan sebagai alur hidup yang mengalir begitu saja.

Yah! Sebuah keadaan yang membuat kita berada dalam mode otomatis dan telah melupakan satu hal penting, suatu hal yang perlu dipertanyakan sebelum kita menyesal.

Pertanyaan utama itu adalah apakah selama ini saya tidak mengenal diri saya sendiri.

Dan di pagi yang cerah saya akan menanyakannya. 

Apakah kamu mengenal diri kamu sendiri?

Jika pertanyaan yang saya lontarkan, mampu kamu jawab bahwa “saya menerima segala kekurangan saya”.

Namun, bila sebalikannya. Maka, selamat kamu belum mengenal diri kamu sendiri.

Fakta menariknya rata-rata dari kita kurang dan tidak mengenal diri kita sendiri. Tidak bisa dipunkiri kita termasuk orang yang tidak mengenal diri kita sendiri.

Bukan tanpa alasan bahwa mengenal diri sendiri adalah hal yang penting dan saya anggap bahwa ini seperti ujung tombak kita untuk menghadapi masa depan. 

Beberapa pertanyaan yang mungkin membantu kamu mengenali diri kamu sendiri:

Apa kekuatan kamu dan apa kelemahan kamu?

Apa yang kamu suka dan apa yang tidak kamu suka?

Apa hal yang ingin kamu butuhkan dan apa hal yang tidak kamu butuhkan?

Hidup seperti apa yang benar-benar kamu inginkan?

Dan bagaimana cara kamu berkomunikasi dan beradaptasi?

Setalah menjawab Sebagian besar pertanyaan saya, mungkin kamu sudah mulai mengenal diri kamu sendiri, walau belum seutuhnya. 

Paling tidak kamu sudah berpikir, siapa diri saya. Apakah jalan yang saya pilih sudah benar atau mungkin kamu masih berada di persimpangan hidup dan sekarang kamu masih bingung memilih jalur hidup. 

Jika kamu dipersimpangan, denah yang bisa saya bagikan adalah buka Kembali denah atau jalur yang telah kamu lalui di masa lalu dan pikirkan apa yang telah kamu capai dan apa yang tidak kamu capai di masa lalu. Selanjutnya kamu mengukur sejauh mana kemampuanmu dalam menapaki pencapain disana. Bila kamu sudah mengukurnya, kamu bisa meletakkanya Kembali di bagian catatan planning sebagai referensi kekurangan dan kelebihan kamu.

Adanya catatan riwayat sebelumnya, kamu sudah bisa melihat dengan jelas jalur apa yang akan kamu pilih selanjutnya yaitu sebuah jalur yang realistis untuk memilih dan memikirkan masa depan.

3. Identitas “apa identitas kamu”

Dari waktu ke waktu kita selalu membuat suatu keputusan untuk menentukan apa yang terbaik, yang mungkin sesuai persepsi kita, yang sesuai keinginginan atau mungkin sesuai kesenangan singkat yang kita bayangkan.

Berbagai keputusan yang telah kita buat selama telah menjadi pola hidup, pola yang tergambar jelas dari sudut pandang orang lain seperti teman dekat kita yang sering kita temani bercanda dan jalan-jalan ke taman.

Mereka mengenalmu dengan sangat baik dan mereka mampu membedakanmu dengan orang lain dari kejauhan, sesaat sebelum mereka ingin mengajak kamu untuk berbicara lepas, secara otomatis mereka akan berpikir bahwa ini pola yang akan kamu pilih, ini yang akan kamu pikirkan, apapun itu mereka dapat menyampaikan kata-kata yang Sebagian besar kamu “iya-kan”.

Kebetulan tersebut terjadi secara tak sadar dan kita menganggapnya sebagai angin berlalu. Fakta menariknya bahwa disanalah sumber identitas kita yang asli, sebuah identitas yang terlihat dengan jelas dimata teman kita.

Jika, kamu sudah berani menanyakan pendapat teman kamu tentang “bagaimana persepsi mereka terhadap kamu”. Besar kemungkinan kamu akan melihat apa kekurangan dan kelebihanmu.

Dari kedua aspek dari kekurangan dan kelebihan, yang terpenting kamu harus focus pada aspek kelebihan. Apa saja kelebihanmu saat mengambil keputusan dan melakukan Tindakan terhadap keputusan itu.

Misalnya kamu sudah mengetahui dengan terang menderang bahwa kamu menyukai kegiatan menulis, maka pastikan bahwa aktivitas menulis adalah kegiatan yang menyenangkan dan bisa kamu kata dengan jelas ke orang lain bahwa “saya menikmatinya”. 

Jika, teman kamu bertanya apa kegiatan yang kamu sukai dan nikmati, di saat itu juga kamu tentu otomatis menjawab dengan jelas bahwa “saya menyukai dan menikmati kegiatan menulis dan saya berkeinginan menjadi penulis ternama”.

Nah! Jika kamu mengikuti scenario tadi. Maka, tidak ada kata lain kecuali kamu sudah memiliki sebuah identitas yang layak dipertahankan.

4. Angin “aggaplah pikiran orang lain sebagai angin berlalu”

Di hari yang penuh semangat kita sangat fleksibel melakukan banyak aktivitas dengan santainya, mengikuti semua alur hidup yang sering kita lakukan, seperti makan, tidur, mandi dan jalan-jalan.

Hingga, suatu masa kita melihat ada sesuatu yang ingin kita tambahkan dalam hidup yaitu penambahan kebiasaan baru, suatu kebiasaan yang mana kita, itu dapat menuntun dan berpengaruh besar terhadap masa depan.

Namun, apalah daya kita selalu menunda-nunda perubahan, menunda bukan karna faktor kurang mampu hanya saja kita tidak ingin dipandang berbeda oleh orang lain, apalagi mereka adalah kerabat dan teman dekat kita.

Asumsi pun menjalar ke otak bahwa saya nanti dianggap orang aneh, saya nanti dianggap orang yang nggak jelas, saya nanti dianggap orang yang telah banyak berubah. Hari demi hari pun kita menunda kedatangan perubahan.

Hari pekan bulan dan bahkan tahun pun telah terlewati gara-gara asumsi-asumsi yang mencemaskan. Namun, pada kenyataanya  itu hanya terjadi dalam pikiran kita dan itu tidak lebih dari persepsi belakang yang mengahambat perkembangan.

“kita kadang mencemasakan dan rishi pada sesuatu yang mungkin tidak akan terjadi sama sekali” 

Setelah setahun telah berlalu, barulah kita tersadar bahwa saya mungkin sudah berubah menjadi lebih baik, jika dahulu saya sudah memulainya.

Yah! Begitulah scenario hidup yang terlalu memikirkan anggapan orang lain, yang tidak sepernuhnya terjadi, biarpun terjadi itu tidak akan sama persis dan bahkan melenceng dari pola kecemasan kita.

Mungkin lebih baik kita memikirkan apa yang bisa dilakukan sekarang daripada mencemaskan apa yang akan terjadi di hari esok atau di masa depan, yang telalu jauh melambung terhadap apa yang seharusnya kita lakukan sekarang.

Untuk itu, Hari ini dan di detik ini, sekarang juga kita tau betul apa yang mesti kita kerjakan. Ya! Tidak ada kata lain dalam menyelasaikan pekerjaan kecuali “lakukan”.

5. Fokus “Lihatlah dengan jelas jalur dari target kamu”

Anak panah yang tidak penah dilesatkan dari busurnya tidak akan mengenai apapun, sebuah filosfi jika kita tidak menargetkan hal apapun tentu garis lurusnya kita tidak akan mendapatkan apapun atau yang kedua kita mengerjakan sesuatu tapi tidak perah memberi target yang jelas atau Batasan waktu pencapaian, sehingga kita seolah-olah lari marathon terus-menerus tanpa garis finis.

 Sekencang apapun kita berlari, sehebat apapun bakat yang kita miliki, namun jika kita tidak punya target yang jelas tentu jawaban yang muncul disana adalah satu kata yaitu “keraguan”.

Sebuah contoh nyata saat memulai blog, kita berasumsi hanya ingin terus-menerus manulis saja, menulis ya! Menulis. Tampak jelas dan benar. 

Namun, dibalik itu kita terlalu melebarkan terget, jadinya target yang kita buat tidak membuat kita berkembang sama sekali.

Jika, anggapan kita hanya sekedar menulis artikel dari hari ke hari. Kemungkinan di persimpangan nanti kamu tidak akan menemukan perubahan, dari awal kamu menulis sampai sekarang tulisanmu masih itu-itu saja.

Nah! Kita perlu membuat target garis finis yang jelas dan meruncing. Sejak awal kamu yakin akan menjadi seorang penulis best-seller. Maka kamu mesti membuat garis finis yang masuk akal seperti target di tahun ini saya hanya membuat karya tulis yang banyak saja dan di tahun depan nanti saya belajar membuat karya yang berkualias.

Scenario lengkapnya yaitu saat di awal kita masih meraba-raba dan belum banyak mengetahui kosa-kata, apalagi cara penempatanya. Maka, dari itu kita belajar melakukan banyak daripada melakukan yang terbaik Bahasa lainnya kita focus pada kuantitas daripada kualitas.

Kedepanya jika kita sudah pandai mengolah kata dan Menyusun diksi, selanjutnya kita beralih ke mode pembuatan artikel yang berkualitas. Suatu artikel yang tercipta dari pengalaman kita menulis sebelum-sebelumnya.

Jadi, dalam praktinya kita belajar dari hal yang mudah terlebih dahulu kemudian kita beralih ke bagian tersulit. Dari asal posting menjadi tidak asal menulis.

“kita perlu mengaduk ketiga bahan yaitu pasir, air, kerikil, dan semen sampai kita merasa campurannya sudah sesuai, kemudian kita baru bisa menggunakannya untuk membuat bangunan yang kokoh dan megah”.

6. Nikmati “jadilah kamu penikmat pekerjaan”

Sebuah kantor pusat pelayanan Kesehatan, tempat kita bekerja dan menghasilkan banyak profit atau pemasukan yang sekarang kita menyandang jabatan sebagai pengelolah utama rumah sakit. Orang-orang memandang kita sebagai orang sukses dan Bahagia menjalani pekerjaan yang di impi-impikan oleh orang banyak.

Tapi, dari kaca mata kita sendiri kita kurang Bahagia, walaupun pekerjaan yang kita jalanin adalah pekerjaan yang terbaik dari yang terbaik, pekerjaan yang tingkat kesulitannya masuk sepesifikas pekerjaan tersulit, sehingga orang-orang tertentu saja yang bisa ditempatkan disana.

Sebagian besar kita memiliki pekerjaan bukan karna menyukainnya, hanya saja terpaksa berada disana entah tuntutan ijaza kampus, tuntunan orang tua atau mungkin tuntutan teman yang kita ikuti. 

Suatu bentuk lingkungan yang memaksa kita ingin memiliki perkerjaan dengan jabatan yang tinggi dan pemasukan yang banyak agar kita di akui oleh tetangga sebelah bahwa kita termasuk orang sukses.

Pernah kah kamu menyadari bahwa hampir setiap hal yang ingin kita miliki itu selalu saja berhubungan dengan barang berharga seperti motor, mobil dan rumah, yang Semuanya hanya untuk membuktikan bahwa kita sukses, kita Bahagia atau mungkin hanya sekedar pemanis mata bahwa hidup saya jauh lebih baik dari kamu.

Berlomba-lomba membeli barang mewah hanya untuk peningkatan status sosial. Sekalipun dibalik layer kita tersiksa dengan pekerjaan yang tidak menyenangkan itu, sampai-sampai kita menggunakan kredit untuk memiliki barang-barang mewah.

Uniknya kita menganggap scenario ini termasuk sehat. Tapi, kenyataan tidak sama sekali karna kita terlalu banyak melakukan hal yang tidak membahagiakan, dari membeli barang yang tidak di butuhkan, mancari pemasukan dari pekerjaan yang tidak kita sukai dan bahkan memaksa diri untuk meminjam uang di bank, hanya untuk membeli barang mewah, demi ingin menyandang kata “pujian”.

Mulai hari ini dan seterusnya kita harus berhenti dari perputaran permainan konyol ini, permainan hidup yang tidak ada untungnya dan tidak ada habisnya dan tidak ada kebahagiaan sejati di dalamnya.

Mungkin Sekarang kamu masih melakukannya sebab sekarnang kamu mengalami tekanan di aspek ekonomi. Bila, saya keluar dari pekerjaan maka saya tidak punya pemasukan. 

Yah! Anggapan ini benar, kamu tetap bekerja sekalipun itu pekerjaan yang tidak kamu sukai. 

Akan tetapi, bila kamu menemukan pekerjaan yang kamu suka dan kamu bisa menikmati pekerjaan itu, tentu dari sana kamu mulai mangambil aba-aba atau persiapan sebelum keluar dari pekerjaan yang tidak kamu sukai, yang mana kamu mempersiapkan diri untuk kumpul modal sebelum keluar, modal untuk mengikuti rencana dan alur pekerjaan yang kamu impikan, jika saat itu telah tiba,maka tidak ada kata lain kecuali “lakukan”.

Saya sendiri seorang mahasiswa di akhir tahun yang baru sadar bahwa saya tidak membutuhkan gelar kampus, gelar yang tidak akan saya pakai di pekerjaan. Tapi, sayangnya saya sudah terlanjur daftar, terlanjur sampai tahap terakhir, ya! Apa boleh buat saya tetap lanjut. 

Sembari mengerjakan skripsi, disisi lain saya mempersiapkan diri untuk pekerjaan yang saya sukai kedepannya. Bukan tiba-tiba minta surat pengunduran diri.

Kita butuh fase transisi atau fase persiapan sebelum melakukan hal yang benar-benar kita inginkan dan kita akan menikmati hal tersebut.

7. Perbading “jangan bandingkan diri kamu dengan orang lain”

Awal pertama kita menjadi penulis online atau seorang blogger pekerjaan, semuanya terasa menyenangan dan kita enjoy njalaninya. 

Namun, setelah beberapa lama kita menulis dan terus menulis, hingga di satu titik kita melihat karya tulis yang berkualitas dan topik yang kita angkat sama dengan tulisan itu, namun yang membedakan adalah kualitas tulisan, seketika itu kita mulai membanding-bandingkan karya tulis orang lain dengan karya tulis kita, al hasil kita merasa minder dan merasa sangat payah dalam hal menulis.

Apalah daya jika kita hanyalah seorang pemula yang belum bisa diharap.

Sekalipun kita berharap, ujung-ujungnya kita akan kecewa di akhir cerita. ya! Saya akui adanya kepayahan itu “mungkin saya kurang sesuai dengan pekerjaan menulis artikel”.

Sebuah sekenario pembatal kesuksean dan pembunuh masa depan blogger pemula, yang awalnya mereka besemangat menulis namun ditengah perjalanan mereka kandas dan buntu di persimpangan jalan. 

Hal pertama yang mesti dilakukan Ketika kamu mulai merasa cemas dengan kondisi blogmu Yaitu jangan pernah membuka sosial media atau membuka youtube demi untuk hiburan – jangan coba-coba lakukan itu.

Sebab disana kamu akan mendapat dampak negative yaitu naiknya statistic kecemasan. Kecemasan yang timbul karna dipicu oleh kebahagiaan kehidupan orang lain, sebuah kehidupan yang lebih beruntung daripada kehidupan kita sendiri, yang mungkin saat kita melihat kebahagian mereka, kita merasa sangat tidak beruntung di dunia ini.

Harap-harap kita mencari penawar kecemasan, tapi kita malah berdekatan dengan media yang dapat menurunkan dan bahkan menjatukan martbat kita.

Untuk itu, jangan pernah membuka sosial media dengan alasan sekedar menghibur diri. 

Keluarlah jalan-jalan dan ngobrol dengan teman agar rasa cemasmu terbagi, paling tidak kecemasanmu berkurang dan kamu lebih bersyukur akan hidup yang kamu miliki sekarang dan belajar menerima diri kamu sendiri apa adanya.


Kesimpulan 

 Rasa petulang dan pengabadian diri terhadap sesuatu yang benar-benar kita inginkan. Kita mencurahkan banyak sekali waktu dan banyak sekali pengorbanan yang ditandai banyaknya keselahan, kegagalan, dan keraguan sesaat kita meng - iyakan keyakinan kita bahwa inilah hal yang benar-berar saya inginkan.

Suatu keyakinan yang sampai saat ini, kita masih memperjuangkannya.

Kepemilikian keyakinan akan tercapainya tujuan sebagai penulis, Nampak jelas dari seberapa besar kita berusaha dan menahan kesabaran untuk menapaki yang Namanya keberhasilan dalam bidang menulis.

Namun, apa mungkin suatu keyakinan besar dapat berbalik arah menjadi kegagalan. Bisa dikatakan ya dan bisa dikatakan tidak.

Akan tetapi, bukan itu yang penting, yang terpenting itu adalah seberapa cepat kita memperbaiki kesalahan atau kegagalan yang telah kita buat. Bukannya kita memilih menghindari kenyataan, sebalikanya kita berhadapan langsung dengan kenyataan pahit itu bahwa kita masih perlu berusaha.

“hampir semua keberhasilan di dunia dicapai oleh orang yang terus berusaha, walau tampaknya sudah tidak ada harapan lagi”

Saya, kamu atau pun mereka sebelum dan sesudah mengambil keputusan, kita semua merasa mawas dan takut akan apa yang telah kita pilih.

Fakta menariknya bahwa seberapa besar, seberapa hebat, seberapa popular, seberapa sukses seseorang, tetap saja mereka selalu memiliki rasa takut sebelum dan sesudah melangah. Hanya saja mereka sudah terbiasa dengan rasa takut mereka.

Sekalipun kegagalan menanti, tetap saja mereka merasa takut menekan tombol peluncuran. Sebuah peluncuran roket yang dipicu oleh satu tombol merah menyala, tombol berhasil tidaknya ruket mengudara ke luar atmosfer bumi dan saat itu kita yang memutuskan apakah semua sudah dipersiapkan ataukah masih ada yang perlu diperbaiki, semua itu bergantung keputusan kita.

 Begitupan dalam kehidupan kita sehari-hari yang selalu membuat keputusan baik sadar maupun tidak sadar dan yang paling menegankan adalah keputusan Ketika kita sadar, kita merasa takut untuk mengambil keputusan.

Tapi, satu hal penting yang perlu kita ingat bahwa apapun yang kita putuskan semuanya tentu memiliki resikonya masing-masing.

Seperti sekarang kita sudah memutuskan menjadi penulis online, seorang penulis pemula yang masih merangkak dari nol dan akan merangkak ke angka selanjutnya, sebuah proses merangkak yang membutuhkan banyak pengalaman dan guru terbaik dalam bidang pengalaman adalah “kegagalan”.


Hicul
Hicul Kenalkan saya "Kif" seorang blogger baru yang mengelolah blog Hicul.my.id dan saat ini aktif berbagi info menarik berdasarkan pengalaman Pribadi dan pengalaman membaca artikel Teratas.

Posting Komentar untuk "Cara Menjadi Diri Sendiri Apa Adanya Sebagai Penulis"